ANALISIS

Amerika Mendukung Perang Sektarian di Suriah

Siapakah Ibrahim Yousef Yang Mengilhami Pemberontak Suriah

16 Juni 1979, seorang perwira jaga di Akademi Artileri Alepo, Kapten Ibrahim Yousef, memanggil 300 taruna untuk pertemuan darurat di aula. Kemudian dijaga oleh 10 pria bersenjata otomatis yang serta merta mengunci pintu aula. Sebagaimana Ibrahim Yousef, mereka adalah militan suni garis keras yang bernama “Tali’a muqatila (Fighting Vanguard) sempalan dari sayap militer Ikhwanul Muslimin.

Berbicara di hadapan mikrofon, Yousef mengumumkan bahwa “setiap siswa Nusayri di aula ini ditangkap oleh … Tali’a muqatila“. Nusayri adalah istilah merendahkan untuk suku Alawite Suriah, sebuah suku pengikut Islam Syiah yang anggotanya termasuk keluarga Presiden Suriah Bashar Assad.

Yousef kemudian mengambil kertas dari sakunya yang berisi daftar nama-nama mereka yang diperbolehkan meninggalkan aula “karena kita tidak ingin menyakiti kami muslim Sunni saudara kami.”

Setelah semua taruna Sunni meninggalkan aula, Yousef dan pengikutnya memberondong semua taruna yang bersuku Alawite dan melemparkan granat pada siswa yang tersisa. Menewaskan sedikitnya 32 taruna tewas ditempat kejadian dan 54 lainnya luka parah.

Lebih dari 35 tahun kemudian, pembantaian telah menjadi inspirasi bagi oposisi bersenjata Suriah untuk pemerintah Assad. Kelompok oposisi mengumumkannya sebagai serangan besar-besaran dengan sandi operasi “Ibrahim al-Yousef” untuk memecahkan pengepungan militer pemerintah di Aleppo Timur. Itu adalah satu tanda lain dari upaya para ulama terkemuka (Abdullah Muhaysinidi Ibrahim Shasho dll) kubu aliansi pemberontak Suriah untuk pembangkitan kembali perang sektarian yang akan mengulang tragedi 35 tahun yang lalu di Aleppo.

Yang menjadi masalah, Kelompok-kelompok lain seperti Nour al-Din al-Zenki, yang dikategorikan sebagai moderat oleh Amerika Serikat dan Sekutunya, juga menyatakan secara terbuka bergabung dengan dengan aliansi pemberontak Suriah dalam operasi “Ibrahim al-Yousef” yang dipimpin oleh Jaish al-Fatah (Army of Conquest).

“Ada hubungan yang baik dan koordinasi antara semua faksi pemberontak Suriah,” kata Kapten. Abdul-Razzaq, juru bicara kelompok pemberontak Nour al-Din al-Zenki, yang hingga September lalu adalah penerima terbesar dukungan dana, persenjataan, amunisi dan pelatihan oleh Amerika Serikat. Bahkan, secara terbuka pula Kapten Abdul-Razzaq juru bicara kelompok pemberontak Nour al-Din al-Zenki menyatakan akan selalu mendukung semua perjuangan Jaish al-Fatah (Army of Conquest).

Nah, siapakah Jaish al-Fatah (Army of Conquest)? Aliansi ini terdiri dari sejumlah faksi pemberontak Suni garis keras, termasuk Jabhat al Nusra (Sekarang menjadi Jabhat Fatah al-Sham), Ahrar al-Sham, faksi-faksi tempur lainnya yang dikategorikan oleh  Barat sebagai pemberontak moderat yang mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Nah, berarti Amerika Serikat secara langsung atau tidak langsung telah mendukung, merestui dan bahkan mempersenjatai salah satu pihak yang sedang mengobarkan perang sektarian.  Minimal Amerika Serikat pura-pura tidak tahu tentang upaya pembangkitan kembali tragedi perang sektarian yang dipicu oleh tragedi pembantaian Capt. Ibrahim Yousef pada tahun 1979 di Aleppo. Minimal, Amerika Serikat pura-pura tidak tahu atau sengaja menutup mata tentang semua gerakan faksi pemberontak Suriah dukungannya.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top