FIKSI & DIARY

Ketika Hanya Kakek Yang Mengapresiasi Semua Capaian Saya

12_1

Ketika awal masuk SD, saya sebenarnya minder berat. Nyaris, semua teman memiliki pakaian dan perlengkapan sekolah yang jauh lebih bagus. Diantar oleh Nenek daftar ke SD Mlati Kidul Kudus, kami jalan kaki lumayan jauh dari Asem Batur. Lewat selokan kecil sebelah selatan desa, kemudian menuju ke Karetan yang kebetulan SD saya tersebut terletak diutara karetan.

Ketika semua masih belajar mengeja “ini ibu budi”, alhamdulillah, saya sudah mampu membacanya dengan lancar jauh lebih bagus ketimbang teman-teman lainnya. Hal itu cukup mengurangi perasaan minder saya. Kakeklah yang mengajariku sejak sebelum masuk SD tentang bagaimana membaca yang baik bahkan cara menulis halus yang indah. Bahkan beliaulah juga yang mengajari saya menggambar yang indah, membaca Arab Gundul (pegon), huruf jawa, dan bahkan berbagai ilmu logika. Sedangkan nenek, banyak juga mengajarai saya menyenandungkan macapat dengan cengkok yang benar. Saya masih ingat betapa sulitnya menembangkan Durma saat itu, karena cengkoknya yang cukup berat, dan harus dihayati maknanya dengan baik. Bahkan diwaktu kecil, saya pun banyak diajarkan berbagai rasa seni, filsafat kehidupan yang kadang melalui berbagai dongeng beliau menjelang tidur.

Nyaris jarang yang tahu di lingkungan saya saat ini yang tahu persis apa saja yang dapat saya lakukan. Jarang yang tahu bahwa selain kemampuan logika saya yang kuat dan kebetulan diasah oleh Kakek sejak dini, saya juga memiliki kemampuan menyanyi dan jiwa seni lainnya yang cukup bagus.

Di desa saya, jarang yang tahu bahwa saya ini langganan juara kelas sampai dengan SMA. Jangankan tetangga di desa, bahkan Ortu saja nggak tahu kalau saya ini langganan juara kelas. Saking rapatnya saya menyimpan, saking tertanamnya filosofi hidup kakek di batin saya, sampai sekarangpun saya masih pintar dan rapat dalam menyembunyikan banyak hal tentang segala hal yang dapat saya lakukan.

Dari semua hal capaian kecil tersebut diatas, membuat saya bangga, namun Kakek selalu mengingatkan saya untuk dapat mengendalikan diri dan tidak mudah terjebak oleh kebanggaan diri yang berlebihan. Hal inilah yang sampai sekarang membentuk karakter saya dan membuat saya tidak mudah menunjukkan kemampuan diri kepada setiap orang.

Ketika itu, hanya Kakek yang mampu mengapresiasi semua capaian saya dengan tulus, ikhlas dan bijak. Semua capaian harus dianggap bukan sekedar sebagai kehebatan diri, namun harus disadari dengan baik bahwa itu semua hanyalah hadiah dari Allah yang Maha dalam segala hal. Kita ini hanya sekedar kecipratan sedikit Nur Nya. Kita hanya boleh bersyukur, tanpa harus merasa diri kita demikian terlalu hebat.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top