FIKSI & DIARY

Seandainya Sesejuk Rasulullah Ataupun Muhammad Al-Fatih

Seandainya Sesejuk Rasulullah Ataupun Muhammad Al-Fatih

Seandainya penawaran konsep Khilafah mereka lakukan sebagaimana seindah dan sesejuk Rasulullah, Khulafa` al-Rasyidun ataupun di jaman kesultanan Muhammad Al-Fatih, maka bahkan penaklukan Konstantinopel pun menjadi akan sangat indah, menarik dan pastilah banyak dikagumi dan diterima oleh semua kalangan, terutama di negeri Islam dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia seperti Indonesia ini.

Ketika pembawa kerinduan keinginan penerapan Khilafah dengan cara yang begitu nampak keras dan brutal sebagaimana ISIS ataupun sebagian pemberontak Suriah, al-Qaeda, Boko Haram, AQAP, ataupun sejenisnya, maka jelas akan membuat semua orang ngeri dan antipati.

Di dalam negeri, banyak juga ormas yang terlalu rindu untuk mengibarkan bendera Khilafah dengan cara yang sarat kekerasan baik verbal maupun non verbal. Bahkan, aksi HTI kemarin membuat saya merinding, ketika dalam beberapa tayangan video yang diunggah oleh kalangan HTI sendiri membuat saya ngeri luar biasa. Bagaimana mungkin konsep khilafah ini mau ditawarkan dengan cara begitu mudah membid’ahkan atau bahkan mengkafirkan orang lain, dan bahkan berbagai kekerasan verbal yang dapat ditonton sendiri berbagai video yang diunggah oleh simpatisan mereka sendiri.

Ada fragmen mengerikan ketika dalam demo anti Ahok, mereka mengucapkan yel-yel bahwa Ahok layak untuk disembelih. Sungguh cara berdakwah yang relatif tidak cerdas, tidak sejuk dan bahkan relatif brutal menurut saya. Walaupun dalam sesi pidato Ustadz Ismail Yusanto sebenarnya relatif datar, cool dan damai.

Mengapa mereka tidak dapat melakukannya dengan sejuk, sehingga umat Islam sendiri menjadi tidak ngeri dan bahkan akan menghindar terbirit-birit. Apalagi jika mereka bukan Muslim, dijamin pasti akan antipati dan melakukan resistensi luar biasa.

Cobalah para ustadz yang ingin mengibarkan ulang bendera Khilafah, kalau masih belum bisa meniru sebagaimana cara Rasulullah, cara sebagaimana Muhammad Al-Fatih, belajar lagi dulu pada Ustadz Felix Siauw yang masih bau kencur, namun mampu membawakan konsepnya dengan sejuk, cerdas, dan berupa ajakan berdiskusi yang melalui cara-cara yang indah. Tidak dengan sekedar mengucap takbir, mengepalkan tangan keatas dengan mata mendelik.

Saya tertarik dengan konsep diskusi Ustadz muda ini ketika dengan sejuk dan adem mampu menggunakan diskusinya dengan apik ketika diminta pendapatnya dalam mensikapi model pendekatan “kekerasan” yang digunakan oleh ormas seperti FPI. “Kekerasan” disini sengaja saya beri tanda kutip, karena bisa disebabkan banyak hal. Mungkin karena pada dasarnya para pengikut FPI memang begitu adanya, atau bisa jadi karena penggiringan opini oleh media masa, sebagaimana pembelaaan cerdas Ustadz Felix Siauw.

Mungkin Ustadz Felix Siauw mampu membawakannya dengan sejuk bukan sekedar karena kecerdasannya, namun mungkin karena pengalaman pencariannya yang penuh pertentangan dan batu sandungan untuk menjadi seorang muslim, apalagi Ustadz Felix Siauw seorang minoritas, membuatnya menjadi lebih bijak ketimbang ustadz-ustadz senior lainnya.

Pembelaan cerdas dalam garis bawah ini sengaja saya garis bawahi, karena Ustadz Felix Siauw tidak serta merta membelanya ataupun menentangnya. Ada alasan rasional yang dapat dikatakan “reasonable” dalam pembelaan halusnya. Ustadz Felix Siauw lebih memilih wait & see, tidak berpihak dan ending-nya, menekankan bahwa Islam sebenarnya tidak menganjurkan kekerasan.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top