Internasional

Suriah Tidak Boleh Menjadi Libya Atau Irak Berikutnya

Suriah Tidak Boleh Menjadi Libya Atau Irak Berikutnya

Duta Besar Suriah untuk PBB, Bashar al-Ja’afari mengatakan negaranya tidak akan dan tidak boleh berubah menjadi Libya atau Irak berikutnya. Bashar al-Ja’afari menambahkan bahwa Damaskus siap untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian tanpa prasyarat ketika Moskow dan Washington mendesak kebangkitan kembali proses negosiasi.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia (Rabu Kemarin), Sergey Lavrov mengatakan bahwa konflik di Suriah serta yang terjadi di Libya dan Irak, merupakan “konsekuensi langsung” dari operasi militer pimpinan AS di wilayah tersebut.

Al-Ja’afari mengisyaratkan bahwa Damaskus siap untuk melanjutkan proses perdamaian yang macet untuk menemukan solusi diplomatik untuk menghindari pertumpahan darah bertahun-tahun di Suriah.

“Negara saya siap untuk melanjutkan dialog intra-Suriah tanpa prasyarat dan akan mentaati keputusan lembaga Dunia untuk mencapai solusi politik yang diputuskan untuk Suriah,” kata Ja’afari.

Pada hari Senin tentara Suriah menyatakan dalam sebuah pernyataan akhir dari tujuh hari gencatan senjata menyalahkan “kelompok teroris” awal untuk pelanggaran berulang dan penggunaan gencatan senjata untuk melakukan konsolidasi ulang anggota milisinya.

Selama pertemuan DK PBB Rabu, Lavrov juga mengecam kelompok pemberontak, termasuk kelompok pemberontak dukungan AS yang telah menyetujui kesepakatan gencatan senjata atas “300 kasus pelanggaran penghentian permusuhan.” Sebaliknya, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, yakin bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas semua pelanggaran penghentian permusuhan.

Penghentian permusuhan mengalami kemunduran besar pada 17 September setelah serangan udara koalisi pimpinan AS menggempur posisi pasukan pemerintah Suriah di dekat kota Deir ez-Zor. Lebih dari 80 tentara Suriah tewas akibat serangan itu. Sementara Washington menyebut insiden itu hanyalah kesalahan tidak disengaja, sebaliknya pemimpin Suriah, Bashar Assad menyebutnya sebagai “agresi yang keji.”

Dan hanya dua hari kemudian konvoi kemanusiaan PBB menuju ke Aleppo diserang, dengan 20 warga sipil dan satu pekerja bantuan terbunuh. Hal ini masih belum jelas siapa yang berada di belakang kekejaman ini. AS dan Inggris dengan serta merta menuduh bahwa Rusia adalah pelaku pengeboman konvoi bantuan PBB. Sementara, Lavrov menyatakan bahwa Rusia telah menyerahkan semua informasi yang relevan pada kasus ini pada pada pertemuan DK PBB.

Sumber: Ruptly

 


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top