ANALISIS

Gagal Paham Dengan Bangunan Logika Cholil Nafis


Pihak MUI, melalui Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, Cholil Nafis menjelaskan bahwa makna yang lebih luas dari Al-Maidah 51 adalah:

”Kalau teman dekat dan penolong saja tak boleh, apalagi sebagai pemimpin. Teman dekat yang setia itu karena akan tahu rahasia Muslim, penolong itu karena kekuatannya. Dengan demikian, maka pemimpin pasti lebih dilarang.” (Republika, 23 Oktober 2016)

Nah, ini logika yang maksa banget dan dampaknya juga tidak sesederhana ungkapan Cholil Nafis. Jika mau fair dan benar-benar “khaffah” dalam pemaknaan dan penerapan menurut intepretasi dari Cholil Nafis, maka umat muslim juga harus rela menanggung akibat dari penerapan tersebut.

Majikan itu termasuk penolong, bahkan mungkin pemimpin apa bukan.

Kalau mau diterapkan secara “khaffah” maka seharusnya para pekerja muslim yang bekerja pada majikan “kafir” harus keluar dari pekerjaan tersebut. para TKI yang bekerja di luar negeri, kecuali Arab Saudi dan sekitarnya, jelas bekerja pada majikan yang kemungkinan besar “kafir”. Apakah mereka harus mengundurkan diri juga?

Berikutnya, relasi bisnis termasuk teman dekat dan penolong atau tidak.

Jika mau diterapkan secara “khaffah”, maka seluruh perjanjian dan kerjasama dengan rekanan/mitra bisnis yang “kafir” harus diputuskan sekarang juga. Perjanjian ekspor dan impor dengan relasi “teman bisnis” harus segera diputus, sehingga mereka harus segera berpindah ke relasi bisnis yang benar-benar terjamin ke-muslim-annya. Thus, semua barang impor dari negara kafir juga harus diharamkan juga. Itu kalau mau benar-benar mau menerapkan pemaknaan “awliya” dari Cholil Nafis secara menyeluruh.

Dalam perspektif organisasi termasuk dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Nah, kalau menggunakan logika Cholil Nafis, “maka teman saja nggak boleh apalagi pemimpin”. jadi, seharusnya para pegawai yang kebetulan pemimpinnya orang kafir, harus berani berjuang untuk mengubahnya atau setidaknya mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut. Bayangkan seberapa banyak pegawai, buruh ataupun pelaku organisasi yang kebetulan muslim, dan kebetulan juga harus dipimpin oleh pemimpin yang non-muslim.

Dalam perspektif keluarga

Kalau berteman saja nggak boleh, maka bersaudara juga nggak boleh dong, apalagi jadi pemimpin. Apa juga para saudaranya yang kebetulan non-muslim juga harus dijauhi juga? Banyak lho, para mualaf yang kebetulan orang-tuanya dan sudaranya non-mslim. Terus bagaimana seharusnya bersikap. Apakah mereka sebaiknya memecat bapaknya yang saat ini menjadi kepala keluarga. Apa ya harus para sudara non-muslim harus dijauhi juga. Terus bagaimana dengan semangat menjaga silaturahminya?

Memang, menghormati orang tua sangat dianjurkan dalam Islam. menghormati dengan kepemimpinan itu perspektif yang lumayan berbeda penerapannya. bapak yang non-muslim itu jelas harus dihormati dalam perspektif Islam, namun sebagai kepala/pemimpin keluarga, harus diperlakukan seperti apa, menurut MUI?

Saya gagal paham dengan logika yang dibangun oleh Cholil Nafis sebagai representasi dari penjelasan MUI, karena nampaknya justru menjadi abai terhadap dampaknya dan abai terhadap tata pelaksanaanya dalam praktek. Ini mungkin karena otak saya yang terlalu cetek, atau Cholil Nafis yang terlalu cerdas bagi saya.

Saya paham maksud sebenarnyanya untuk menjaga semangat penolakan pemimpin kafir, MUI mencoba menjelaskan dengan logika yang lumayan serampangan, “Jika teman saja nggak boleh, apalagi dijadikan pemimpin”. Logika ini sekilas nampak masuk akal, namun dalam tata pelaksanaannya akan berdampak lumayan serius.

Semangat penolakan terhadap pemimpin “kafir” yang terlau menggebu-gebu dan berlebihan ini justru malah mendistorsi marwah MUI. Pembelaan yang berlebihan terhadap keputusan keagamaan MUI ini malah terlihat konyol dan membuat banyak orang bertanya-tanya, termasuk saya. yang dimaui oleh Cholil Nafis sebenarnya kebenaran atau pembenaran?


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top