CENGENGESAN

Kalau Ngomong Jangan Pakai Dengkul


… ah blunder kalau ngomong pakai akal jangan pakai dengkul , bikin malu….,” demikian tanggapan dari Wakil Sekretaris Jendral MUI, KH. Tengku Zulkarnaen.

Menurut KH. Tengku Zulkarnaen, manusia memiliki hak untuk menafsirkan wahyu Allah. Al-Qur’an itu hudalinnas (petunjuk bagi manusia), sehingga ya harus ditafsirkan oleh umat manusia untuk memahami dan sekaligus menjalankan perintah Allah sebenar-benarnya.

Kalau hanya Rasulullah SAW dan Allah saja yang boleh menafsirkan Al-Qur,an, namanya bukan lagi hudalinnas, namun hudalilrasul atau hudalillah, lanjut KH. Tengku Zulkarnaen.

Saya sepakat dan setuju dengan pendapat KH. Tengku Zulkarnaen dalam hal ini. Saya juga agak kurang sreg dengan penjelasan Nusron Wahid. Bahkan dalam praktik hukum, undang-undang, aturan lainnya, kita sebagai manusia juga boleh menafsirkannya, selama tidak menafsirkan demi mencari celah untuk mengedepankan kepentingan diri sendiri dan golongan saja.

Jangankan hukum, lha wong permintaan tolong saya kepada anak juga harus ditafsirkan oleh anak saya kok dengan baik. Saya ketika meminta tolong anak saya untuk mengambilkan minuman di dapur, pasti juga ditafsirkannya agar tidak keliru mengambilkan airnya di kamar mandi. kalau nggak ditafsirkan dengan benar, khan saya juga yang kacau dan repot nantinya.

Al-Qur’an dapat dipahami jika ada tafsirnya yang selama ini dibuat oleh manusia yang diwakili oleh para ulama terkemuka, agar mudah dipahami dan dilaksanakan oleh manusia. Tanpa tafsir dari manusia, maka mustahil Al-Qur’an dapat dilaksanakan dengan baik oleh manusia terutama orang-orang awam seperti kita-kita. Jelas ilmu kita, apalagi yang awam, tidak bakalan nyampai untuk menafsirkan perintah yang hanya dapat dimengerti oleh Allah dan Rasulullah sendiri. Selama tafsir tersebut tidak digunakan untuk melindungi kepentingan pribadi ataupun golongan, maka ya tetap sangat harus dibutuhkan.

Nuwun sewu sebelumnya, ucma ya itu, kalau KH. Tengku Zulkarnaen. Mengkritisi kekonyolan Nusron Wahid dalam hal logika dan sikapnya, mengapa KH. Tengku Zulkarnaen juga menggunakan bahasa “mendengkul-dengkulkan” omongan dan logika Nusron Wahid? Bukankan sebagai ulama pemimpin salah satu organisasi sebesar MUI harus memberikan teladan dalam sikap bagi kita semua? Bukankah “mendengkul-dengkulkan” logika orang lain itu juga salah satu sikap yang kurang baik?¬†Mohon petunjuknya Pak Kyai.

Sejujurnya, saya juga ngeri dengan akibat dari penjelasan panjenengan pada acara yang sama, Pak Kyai. Apakah panjenengan juga tidak memperhitungkan dampak dari penjelasan panjengengan bagi pergolakan umat? Mohon petinjuknya sekali lagi, Pak Kyai.

Sumber Gambar: garagara.id


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top