FIKSI & DIARY

Maksud Ustad Yusuf Mansyur Sebenarnya Baik

Niat beliau sebenarnya untuk mengingatkan agar sebagai anak muda harus menghargai orang tua. Apalagi terhadap para ulama, para alim dan guru-guru kita. terus masalahnya dimana?

Inilah titik kesilapan beliau. Saya lebih memilih membahasakan dengan “silap” ketimbang “salah”, karena saya hanya melihat bahwa Ustad Yusuf Mansyur kurang teliti dalam mengamati Nusron Wahid. Ustad Yusuf Mansyur agak tergesa-gesa sehingga kurang teliti saja, karena reaksi spontan (namanya saja reaksi spontan, mana sempat mengamati terlalu lama ya?) Ustad Yusuf Mansyur kala itu dipenuhi dengan keprihatinan beliau pada munculnya anak muda yang berani berbicara lantang dan “memelototi” ulama.

Ustad Yusuf Mansyur sayangnya tidak mengamati terlebih dahulu tentang dulu bagaimana watak dan body language Nusron Wahid pada saat-saat sebelumnya. Salah satu kekurangan fisik dari Nusron Wahid ya itu, matanya memang “mendolo dari sononya (kayak melotot)”. Saya juga yakin bahwa Nusron Wahid nggak bakalan berani berbicara kasar dan sengaja melotot pada Ulama.

Jangankan Ustad Yusuf Mansyur, anak-anak saya yang lahir di Jogja juga kaget dan bereaksi negatif terhadap tayangan Nusron Wahid saat itu kok. Kalau saya sih, karena asli anak pesisiran, ya nggak kaget dengan gaya bicaranya. Apalagi, setelah beberapa kali saya amati Nusron, memang kelemahan utamanya pada penampakan wajahnya. Walaupun, substansinya saya Juga tidak terlalu sepakat dengan Nusron Wahid. Itu memang cetakan sejak lahir dari sononya.

Reaksi Ustad Yusuf Mansyur muncul tiba-tiba saat sesi Nusron Wahid di ILC. Itu reflek yang sangat wajar dari seorang Ustad yang pasti akan kaget bukan kepalang ketika melihat ada anak muda “seolah” berani menghardik ulama sepuh.

Saya sengaja menulis “seolah” dalam tanda kutip, karena memang kelemahan wajah Nusron ya dari sononya begitu. Bukan berniat sengaja untuk melotot atau mendelik pada lawan bicaranya.

Nada ucapannya juga khas Jawa Tengah, Bagian Timur (Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora) yang bagi orang yang berhati terlalu lembut, akan kedengaran sangat kasar. Apalagi, dia dalam kondisi kecewa ketika Ahok yang harus dimenangkannya, sudah minta maaf, masih juga ditembaki dari kanan kiri.

Inti utamanya, Ustad Yusuf Mansyur berniat baik untuk mengingatkan kita semua agar selalu menghargai orang tua, guru-guru kita, dan Ulama-Ulama kita. Saya sangat setuju dengan hal itu. Khan norma, apalagi agama kita juga pasti memerintahkan hal itu.

Inti lainnya, Nusron Wahid juga nggak mungkin berani menghina atau menghardik Ulama, apalagi dengan sengaja. Orang seperti Nusron Wahid itu, ketemu sama Ulama pasti cium tangan kok. Nusron besar di Ansor yang kental dengan tradisi penghormatan kepada Ulama.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top