FIKSI & DIARY

Saya Mengagumi Gus Mus Bukan karena Sama-Sama Asli Leteh

Saya mengagumi Gus Mus bukan karena tetanggaan karena sama-sama Asli Leteh. Secara pribadi mungkin bahkan belum pernah ketemu, apalagi sempat berkenalan atau berjabat tangan.

Seingat saya hanya sempat sekali berjabat tangan dengan kakak Beliau Mbah Cholil ketika saya harus ikut Solat tarwih di Masjid Pondok Leteh, ketika saya masih ngangsu kawruh di SMP 2 Rembang. Itupun karena harus minta tanda tangan untuk lembar absen Sholat Tarawih yang diwajibkan oleh guru Agama saya di SMP. Bukan karena saya begitu mencintai tarawih.

Saya mengagumi Gus Mus karena Beliau memiliki visi yang sangat humanis dan mampu melakukan Dakwah Islam Dengan lembut dan cerdik.

Saya mengagumi Gus Mus bukan karena konsepnya yang konon kata orang yang tidak menyukainya dianggap agak-agak liberal.

Saya akhir-akhir ini banyak mengikuti rekaman video pengajian-pengajian Gus Mus, Gus Dur, Cak Nun, Mbah Maimun, KH. Anwar Zahid karena kesejukan beliau-beliau dalam berdakwah.

Saya nyantri secara online kepada beliau-beliau. Saya mungkin salah satu santri agak ngawur, sudah terlalu bangkotan dan agak kurang ajar mencuri dengar pendapat dan petuah-petuah beliau tanpa ijin.

Budaya dapat dikemas dengan apik sebagai media dakwah yang lebih membumi dan mampu diserap oleh orang-orang awam dan abangan seperti saya.

Khusus untuk Ust. felix Siauw, saya mengaguminya karena kelembutan dan penggunakaan logika yang apik ketika berdakwah, walaupun begitu saya tidak sepakat dengan ideologinya yang ingin meng-Khilafah-kan Indonesia.

Saya mengagumi beliau-beliau karena pada dasarnya saya ini muslim awam, cenderung abangan, yang masih perlu banyak belajar agama.

Saya mungkin salah satu makhluk yang juga sedang belajar untuk mencintai kelembutan, kesejukan, kedamaian, di muka bumi. Saya juga mungkin salah satu makhluk yang sedang tertular virus anti hiruk-pikuk.

 


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top