ANALISIS

Beda Pendapat Menhan VS Kapolri, Mengapa Terjadi

Beda Pendapat Menhan VS Kapolri, Mengapa Terjadi

Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian mensinyalir bahwa ada kemungkinan keinginan sebagian kelompok yang menginginkan presiden Jokowi terguling. Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu sebaliknya menyatakan bahwa tidak mendengar informasi apapun tentang rencana makar.

Nah, pastilah keduanya memiliki alasan yang sama-sama kuat. Mereka pasti memiliki pasukan intelejen yang juga sama-sama pilihan.

Terlepas dari perbedaan klaim menhan dengan Kapolri, keduanya sama-sama berniat baik, dimana Menhan lebih menginginkan agar masyarakat tenang, sementara Kapolri lebih menitik beratkan pada upaya preventif. Keduanya adalah jendaral-jendral pilihan pada bidangnya masing-masing, dengan segundang prestasi yang tidak dapat dikesampingkan begtu saja.

Ketika sekilas Kapolri menjawab pertanyaan awak media tentang siapa perencana teror 25 Nov (bukan 212), beliau hanya menjawab singkat silahkan cari di google. Mungkin bagi banyak orang ini sangat menggelikan, masak informasi intelejen tentang makar hanya berdasarkan pengindexan mesin pencari google. Saya juga geli pada awalnya. Saya kemudian penasaran dan mencoba mencari petunjuk berdasarkan beberapa kejadian sebelumnya untuk mencari kemungkinan kebenaran klaim Kapolri bahwa ada indikasi makar, sebagaimana dalam artikel ini.

Akhrnya, saya menemukan sebuah tautan situs berita mengenai adanya rencana gerakan yang intinya menyatakan bahwa “…. Ahok tersangka atau tidak Jokowi harus jatuh”. Ini klop dengan konferensi pers dari Kapolri dan pidato Presiden jokowi. Jelas keduanya tidak asal ngomong dan asal klaim begitu saja. Mereka pasti didukung oleh data intelejen yang sangat baik pula.

Dugaan keduanya klop, dan kebetulan juga sedikit saya temukan informasi tautan situs tertentu yang identik dengan klaim Kapolri dan Presiden. pastinya, kapori dan Presiden memiliki informasi yang jauh lebih detail dan rigid. Bisa jadi, keduanya mendapatkan informasi dari sumber yang sama. Panglima TNI juga mendapatkan informasi bahwa ada kemungkinan gerakan upaya makar pada tanggal 25 Nov 2016. Klop dengan informasi Kapolri dan Presiden.

Masalahnya kok beda dengan klaim Menhan yang menyatakan bahwa kemungkinan adalah hanya adanya upaya adu domba, sebagaimana kejadian 411. Menhan bahkan meyakini tidak ada informasi indikasi makar sama sekali.

Terlepas dari perbedaan klaim menhan dengan Kapolri, keduanya sama-sama berniat baik, dimana Menhan lebih menginginkan agar masyarakat tenang, sementara Kapolri ingin melakukan tindakan pencegahan.

Sebagai jenderal senior yang matang dalam dunia intelejen, Menhan pasti tidak akan gegabah mengeluarkan pernyataan ke publik, karena mengingat dampaknya akan membuat cemas masyarakat, dan fatalnya akan menimbulkan gesekan yang tidak perlu. Terlepas ada atau tidak indikasi makar, demi ketenangan masyarakat, maka Menhan kemungkinan besar memilih untuk tidak menyatakannya di depan publik. Dalam istilah jawa “keno iwake, ora buthek banyune”.

Sebagai Jenderal yang lama berkecimpung di bidang anti terror, Kapolri pasti lebih ingin mengedepankan tindakan preventif ketimbang menimbulkan resiko yang lebih besar ketika bergerak pada saat aksi benar-benar terjadi.

Seandainya pernyataan tentang ada tidaknya indikasi makar didiskusikan sebelumnya antara Menhan, Kapolri, Panglima, Badan intelejen dan Presiden, pasti hasilnya akan lebih tajam, valid dan akurat.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top