ANALISIS

Jebakan Neon Dijawab Dengan Gelar Perkara Terbuka


Diantara banyak jepitan dan serangan kepada Presiden Jokowi oleh pihak-pihak yang sangat ngebet untuk melengserkannya, Jokowi mengelaurkan jurus yang cerdik dalam kasus Ahok. Langkah tersebut yaitu dengan memerintahkan Kapolri untuk melakukan gelar perkara Ahok secara terbuka.

Ini langkah cerdik untuk menghindar dari jebakan neon dari lebaran kuda, dua cara jatuhkan Presiden dan sekaligus juga untuk menghapus rumor bahwa Presiden Jokowi melindungi Ahok.

Pencetus ide lebaran kuda, sangat kentara manuvernya untuk menekan penyidik agar segera mencokok Ahok, walaupun dibungkus bahwa kedua kandidat saingan Ahok tidak bangga apabila Ahok terundurkan. Tekanannya masih sangat tampak jelas dengan dibungkus kesantunan bersayap.

Syahwat untuk menjatuhkan Presiden Jokowi dengan dua cara sekaligus, yaitu dengan parlemen ruangan dan parlemen jalanan sangat kental dengan aspek politis yang dibungkus oleh masalah penistaan Agama yang dituduhkan pada Ahok. Dalam hal ini, Presiden Jokowi menjawab dengan cara yang cerdik. Jika gelar perkara dilakukans ecara terbuka, maka tidak ada alasan lagi untuk melakukan parlemen jalanan besar-besaran seperti kemarin. Jikalau mereka nekat melakukannya, dengan alasan apapun, maka masyarakat akan menilai dan mudah membaca niatan mereka sebenarnya.

Lucunya, secara terbuka dan serta-merta ada salah satu ormas yang secara reaktif menolak gelar perkara terbuka. Lha kok, katanya menginginkan gelar perkara yang adil dan Presiden Jokowi diminta tidak mengintervensi?

Anehnya, ketika ditawarkan satu mekanisme yang transparan, justru balik menuduh bahwa ini merupakan upaya Jokowi untuk meloloskan Ahok dari jeratan hukum. Bukankah dengan cara terbuka seperti ini, maka dalam istilah jawa akan terlihat dengan jelas “sopo sing salah seleh”. Bukankah dengan ruduhan ini justru memperlihatkan ada agenda terselubung pihak anti Jokowi yang menggunakn kasus Ahok untuk rencana yang lebih besar? Katanya ingin menegakkan keadilan hukum dengan nama dahsyat yaitu Jihad Konstitusional, boss?

Gelar perkara terbuka dicurigai, gelar perkara tertutup, sewot dan difitnah lebih dahsyat lagi. Terus maunya apa boss? Apakah maunya Ahok langsung dipenjara dan sekaligus Presiden Jokowi harus lengser, begitu?

Bukankah ini terlalu memaksakan kehendak dan sekaligus juga upaya dari agenda besar untuk melengserkan Jokowi? Berarti secara tidak langsung sampeyan semua menjawab sendiri kecurigaan Presiden Jokowi bahwa ada agenda politik (penunggangan aktor politik) besar dalam demo anti Ahok kemarin.

Berarti, pernyataan Presiden Jokowi terjawab sudah. Hanya masalah waktu saja untuk mengungkap siapa aktor-aktor politik yang menunggangi demo besar-besaran kemarin.

Berkendaraan isu super sensitif yang bernama Agama, memang merupakan langkah yang paling mudah untuk menggerakkan masa yang besar. Apalagi di negara yang mayoritas muslim, bahkan jumlah populasi muslim terbesar di seluruh dunia, dan baru belajar berdemokrasi setelah bereformasi dari cengkeraman totalitarianisme rde Baru.

Jebakan neon yang dibuat oleh pihak-pihak anti Ahok sekaligus yang super ngebet ingin melengserkan Presiden Jokowi memang dahsyat dan mengerikan akibatnya. Namun, kedahsyatan strategi seperti ini, ketika sarat dengan syahwat politik super dahyat pasti ada lobangnya dan sekaligus akan tercipta antidotnya.

Salah satu antidot paling sederhana yang dibuat oleh Prsiden Jokowi adalah gelar perkara terbuka. Mekanisme antidot yang lugu, sederhana, adil, lugas, fair dan tidak bertele-tele. “Sopo sing salah, seleh”.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top