ANALISIS

Mewaspadai Ekspansi Cina

Mewaspadai Ekspansi Cina

Saya Setuju Untuk Mewaspadai Ekspansi CinaSebelumnya: Indonesia Menghadapi Ancaman Dari Luar, Terus Bagaimana

Mengingat bahwa Beijing baru-baru ini telah mengumumkan peta batas-batas yang mengklaim petak laut yang mungkin termasuk Kepulauan Natuna sebagai bagian dari wilayahnya, maka semua harus mewaspadainya. Peningkatan pasukan di Kepulauan Natuna memang harus dilakukan. Namun, kurangnya kekuatan militer di pos perbatasan Indonesia yang signifikan ini membuat Beijing dapat seenaknya melanggar teritori laut Indonesia seenaknnya.

Kapal-kapal ikan Cina yang dengan sengaja dikawal oleh Coast Guard Cina nyaris bebas mencuri kekayaan laut di seputaran Natuna. Selama dua tahun terakhir, China telah memperkuat perluasan teritorialnya melalui intimidasi patroli angkatan laut, pengeboran minyak lepas pantai, serbuan kapal ikan, dan pembangunan fasilitas di berbagai pulau-pulau kecil yang tidak jauh dari Natuna.

 

Sampai saat ini Indonesia sebenarnya adalah negara yang nyaris tidak pernah bersengketa dengan negara tetangga – Cina, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, Taiwan – tetapi dengan klaim terbaru Beijing di seputaran Natuna, Presiden Jokowi melihat fenomena ini sebagai salah satu bentuk indikasi agresi China.

Sayangnya, pangkalan udara di Natuna serta “pangkalan angkatan laut” yang ada di Natuna nyaris tidak mungkin untuk menyediakan banyak pertahanan garis depan yang memadai untuk menangkal agresi dari kekuatan militer Cina.

Kepulauan Natuna telah menjadi subyek dari sengketa Indonesia-China. Sampai dengan tahun 1970-an mayoritas penduduk Natuna adalah etnis Cina. Kerusuhan anti-Cina ang sangat mematikan di sekitaran tahun 1960, awal 1980-an, dan sekali lagi pada tahun 1998, yang menyebabkan penurunan drastis populasi etnis Cina di Natuna. Ada isu bahwa pernah terjadi pertemuan rahasia (tidak pernah dikonfirmasi secara publik) antara Deng Xiaoping dengan perwakilan penduduk Natuna etnis Cina, yang meminta Deng untuk membebaskan Natuna dari Indonesia, atau setidaknya menganeksasi kepulauan di bawah kekuasaan Cina.

Pada tahun 1996, Indonesia, memahami bahwa China telah mengisyaratkan klaim teritorial di wilayah laut dekat Natuna, sehingga Indonesia kemudia melakukan latihan militer gabungan (AL & AU) terbesar di sekitar Natuna. Kurang lebih, hampir 20.000 personil di kirim untuk latihan pertahanan laut di wilayah Laut sekitar Natuna. Hal ini memaksa Cina untuk sedikit mundur teratur dan menghormati teritori dan kekuatan militer Indonesia.

Namun untuk sekarang, setelah delapan belas tahun, militer China mengalami tingkat kemajuan yang sangat signifikan dan jauh meninggalkan perkembangan militer kita. Apakah masih ada keberanian Indonesia untuk melakukan hal yang sama sebagaimana yang pernah melakukan laitihan militer gabungan besar-besaran sebagaimana yang pernah di tahun 2996 dalam kondisi saat ini?

Kalau masalah keberanian, militer kita, saya masih sangat yakin bahwa personil militer kita akan sangat berani untuk melawan kekuatan manapun yang mengancam negara kita. Namun, masalah sebenarnya tidak terletak pada seberani apa personil-personil militernya, juga kekuatan militer secara keseluruhan baik personil maupun alutsista.

Jawabanya sangat bagus sebagaimana yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dimana akan memprioritaskan penguatan pangkalan militer Natuna. Ini adalah sinyal yang sangat baik dan kuat agar Cina maupun negara-negara tetangga lainnya untuk tidak sembarangan untuk merecoki wilayah udara dan laut di sekitar Natuna.


Leave a Comment: Prohibited To Perform Spam, Humiliation, Porn Or Drugs
Comments

Copyright © 2016 - Mbahwo.net

To Top